Saatnya menjadi raja di negeri kecil
Akhir-akir ini diberitakan di media local bahwa PHK (pemutusan hubungan kerja) massal terjadi pada sejumlah perusahaan swasta di daerah Pekalongan dan sekitar. Penyebabnya, secara umm diduga karena permintaan barang (order) menurut sementra persediaan barang masih menumpuk sehingga tidak memungkinkan memproduksi lagi. Mimpi buruk dan pahit itu mengakibatkan mantan karyawan resah, bingung, pusing, trauma, pesimis dan pikiran kalut karena peristiwa yang tidak dinginkan dan tidak dibayangkan itu datang secara tiba-tiba tanpa diketahui jauh hari sebelumnya.
Lalu, bagaimana nasib ratusan para pekerja itu selanjutnya setelah muncul musibah kecil, di’pulangkan dengan terpaksa’ dari tempat ia menggantungkan hidupnya? Adalah tidak bijaksana rasanya apabila perusahaan/pabrik dituntut begini dan begitu. Justru seharusnya ucapan terima kasih layak diperoleh oleh pihak manejemen karena, bagaimanapun juga, pihaknya telah memberi kepercayaan kepada para pegawai dan stafnya untuk berkarya di tempatnya selama beberapa waktu. Pun perusahaan tentunya menunjukkan perhatian yang besar pula kepada para bawahannya dengan memehuhi hak-hak semua buruh, sepeti gaji, insentif dan jaminan sosial. Bahkan, meskipun para karyawan harus dikurangi, pihak perusahaan masih berbaik hati dengan memberikan pesangon sepantasnya kepada pagawai yang ‘diluluskan’ tersebut.
Kemungkinan besar, orang-orang yang terkena PHK masih mengharapkan akan dipanggil kerja kembali. Sebagian lainnya memikirkan ini dan itu dalam rangka mencari penghasilan tetap atau lebih. Namun, terkadang kebingungan dan kecemasan mendominasi mereka sehingga langkah mereka terhambat karena ketakutannya. Seperti seorang pelajar atau mahasiswa yang baru lulus belajar, begitu juga karyawan termasuk ‘fresh graduate’ dari tempat bekerja. Maka, hal pertama yang sering dikerjakannya adalah melamar kerja sebanyak-banyak, barangkali mendapat beruntungan, berkerja sesuai yang diminatinya. Namun impian dan harapan berprofesi pegawai tidak kunjung tiba juga.
Peluang
Seseorang yang berpikir besar dan selangkah lebih maju, dirinya akan merancang sesuatu yang kelak dapat diwujudkan secara riil ketika ia sedang bekerja di suatu tempat milik orang lain. Dengan kata lain, pada saat kita harus mengabdikan diri di perusahaan, seyogianya kita mengganggap tempat tersebut sebagai ‘the real univesitas bisnis’. Sebagaimana pesan Robert T Kiyosaki yang menganjurkan, apabila kita harus bekerja, maka bekerja itu untuk (tujuan/alat) belajar, bukan (semata-mata) untuk meraup uang. Artinya, kita apapun yang posisi dipegang dan tugas yang dikerjakan oleh seorang pegawai, sebaiknya semua itu digunakan sebagai sarana untuk mempelajari segala sesuatu yang berkenaaan dengan bisnis atau pekerjaan tertentu di dalam sebuah perusaahaan. Sedangkan gaji dan sejenisnya itu merupakan sebuah imbalan atas kinerja yang dilakukannya dengan semestinya dan sebaik-baiknya.
Setiap karyawan dan staf yang mampu mengetahui, mengamati, memahami dan menyelesaikan job description masing-masing dengan rapi serta memiliki naluri bisnis dibenaknya, dapat diprediksikan suatu hari nanti mereka bisa mendirikan usaha milik sendiri berbekal ‘mencuri’ ilmu pengetahuan di tempatnya bekerja. Dengan begitu, pada waktu terjadi sebuah musibah kecil, diberhentikan sebagai karyawan, maka mereka yang telah siap pengetahuan dan ketrampilan akan bersikap tenang dan berpikir positif. Sementara mereka yang tidak sempat berpikir dan belajar tentang ilmu manajemen dan lainnya di perusahaan, bisa menjadi pusing bahkan frustasi karena ia tidak tahu apa yang selanjutnya mesti dilakukannya.
Di sisi lain, pihak perusahaan yang bijaksana, seharusnya memikirkan dan mengupayakan jalan keluarnya untuk mereka yang diistirahatkan sebagai pekerja di tempatnya, seperti memberikan rekomendasi kepada pihak perusahaan atau instansi lain swasta maupun negeri, agar orang-orang tersebut dapat ditugaskan di tempat-tempat itu. Tambahan pula, instansi yang terkait dengan masalah social --semisal dinas tenaga kerja dan dinas sosial— diharapkan tanggap, sigap dan segera mengambil langkah-langkah kongrit untuk mengatasi problema yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitarnya. Misalnya dengan menerangkan pembinaan, penyuluahan tenntang pendidikan dan pelatihan kewirausahaan serta manajemen bisnis atau usaha. Hal itu dinilai perlu dan penting untuk diketahui dan praktikkan oleh para pencari kerja dan atau pemilik usaha sehingga akan muncul banyak usahawan-usahawan baru.
Meski demikian, menggantungkan pihak lain saja belumlah cukup untuk dapat membuat seseorang yang berjiwa mandiri. Ada beberapa unsur utama yang sebaiknya dimiliki oleh para wirasawasta dan pengusaha pemula yang dapat menciptkan kebebasan financial, meraih profit sebanyak-banyaknya. Sebagaimana dikatakan Herny Ford, kemananan financial bersumber dari pengetahuan, pengalaman dan kemampuan. Akan tetapi, kebanyakan orang mengira modal uang dikatakan sebagian modal pertama dan utama untuk menjalankan bisnis sendiri. Anggapan semacam itulah yang menjadikan kekhawatiran dan keraguan bagi mereka yang sedang akan merintis suatu usaha, dikarenakan financial tipis sekali.
Pada prinsipnya, sumber ide, gagasan, pengetahuan, pengalaman dan keahlian atau ketrampilan, lalu didukung dengan keuangan yang cukup, maka sebuah bisnis dapat didirikan segera sesuai dengan planning (rencana). Selain itu, sikap dan karakteristik positip entrepenur juga perlu ditumbuhkan untuk mendukung lancarnya usaha yang dikelola, sehingga kemungkinan besar kesuksesan dapat digapai secepat mungkin. Tiada kata terlambat untuk belajar dan memulai hal yang baik. Karena itu, setiap wirausaha baru dianjurkan tidak malu untuk menambah pengetahuan tentang bidang yang digeluti, dengan membaca buku, kisah orang sukses, menghadiri seminar dan pelatihan bisnis atau usaha, serta berkonsultasi langsung dengan orang yang ahli bidang khusus.
Tampaknya ungkapan dari Reza M Syarif dalam dalam Going to be The Richest patut dihayati. Dikatakanya bahwa menjadi raja di negeri kecil selalu lebih baik dibandingkan menjadi budak di negeri yang besar. Maka dari itu, percaya atau tidak percaya, pasti ada peluang emas di balik pemberhentian kerja. Asalkan ada tekad dan kemauan keras serta pikiran optimis untuk meraih kesuksesan dengan menciptakan pekerjaan sendiri menggunakan berbagai kemampuan yang dimikiki setiap diri seseorang. Kalau PHK menghampiri, ya enjoy dan tersenyum saja!@
Penulis : Khaerul Khakim, pemerhati pendidikan, social dan agama tinggal di Pekalongan
(Alamat : Jl. KH. Ahmad Dahlan IX/2 Tirto Pekalongan, HP. 085 64 69 84 158)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar