Mengajak Masyarakat Cinta Membaca
Oleh: Choir el Hakeem bikalunjany
Seiring kemajuan di bidang teknologi dan informasi, media massa semakin mudah didapatkan dari kota sampai pelosok desa. Masyarakat umum sekarang disuguhi informasi dan hiburan (infotainment) dari berbagai sumber atau media. Sebut misalnya, sarana yang berupa televisi, radio, telepon seluler, komputer dan internet. Perangkat-perangkat tersebut merupakan alat ampuh dan cepat untuk mempengaruhi penonton dan penggunanya untuk meniru atau melakukan sesuatu yang diliat dan dengan tanpa sempat menyaring info dan data yang diperoleh.
Di sisi lain, budaya membaca buku, koran dan sejenisnya seolah-olah tenggelam dan punah di lingkungan masyarakat. Sebagian mereka beralasan tidak cukup dana untuk membeli surat kabar dan buku. Tetapi mengapa hampir setiap rumah tersedia pesawat telivisi berwarna? Mereka lebih suka melihat televisi dari pada mencari infomasi lewat media tulisan. Mungkin karena media audio-visual mempunyai kelebihan diantaranya menyiarkan berita secara live, langsung. Atau karena lebih puas dengan hanya menyaksiakn dan mendengarkan saja. Sementara media cetak hanya menyajikan tulisan dan dukungan gambar secukupnya, sehingga dirasa tidak efektif, dan meluangkan waktu untuk membacanya.
Permasalahan umum tersebut terjadi sekeliling kita, di kampung kita yang mana tidak ada wadah atau ruang khusus yang menyediakan bacaan untuk masyarakat desa. Hal itulah yang mungkin menyebabkan orang-orang dewasa tidak menyadari pentingnya kebiasaan membaca untuk menggali sejumlah pengetahuan yang dibutuhkan. Selain itu, faktor yang diduga penyebab minimnya minat baca masyakat umum adalah minimnya waktu luang di siang hari untuk mengunjungi perpustakaan yang tersedia. Factor lainnya, kurangnya sosialisasi dan inovasi dari pihak pemerintah daerah kepada masyarakat desa tentang perlunya membangkitkan budaya baca. Di samping itu, pengaruh merebaknya tayangan televisi yang dianggap lebih menghibur dan penuh isu, gossip, dan berita yang menghebohkan. Penyebabnya lagi, mungkin masyarakt kurang memahami tentang manfaat-manfaat yang diperoleh dari membaca koran, majalah atau buku.
Karena itulah untuk menciptakan kecintaan membaca, mari membangkit semangat bersama mencerdaskan masyarakat melalui kebiasaan membaca di mana saja dan kapan saja. Secara teoritis, membaca berarti kegiatan yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis melalui media tulis (Herry GT, 1986). Untuk menanamkan aktifitas positif ini, memang butuh waktu dan kerjasama serta strategi yang kreatif dan tepat sasaran.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah pertama, kampanye koran/tabloid masuk desa. Di setiap tempat strategis seperti perempatan jalan atau minimal di balai desa, perlu dipasang surat kabar harian sehingga memungkinkan warga untuk membaca dan mengetahui perkembangan nasional dan lokal. Kedua, membuat majalah dinding berupa informasi desa setempat dan juga wacana lokal serta menampunng inspirasi, ide, aspirasi, saran dan kritik warga sekitar melalui tulisan. Ketiga, menyenggarakan kompetisi dalam rangka menggugah gemar membaca dan berkreasi. Misalnya mengadakan lomba membaca puisi, cerpen dan menceritakan isi buku tertentu. Tentunya dengan hadiah atau souvenir yang menarik bagi pemenang dan peserta.
Langkah selanjutnya, himbauan secara tertulis dan lisan dari pihak perpustakaan atau instansi khusus yang menangani bidang informasi dan pelayanan public, juga diharapkan berpastisipasi dalam rangka mengajak masyarkat umum agar cinta dengan ilmu pengetahuan. Pihaknya bisa memberikan bimbingan, penyuluhan atau seminar sehari tentang manfaatnya membaca dan menggali informasi melalui buku. Selain itu , bisa disediakan ruang baca di lokasi setempat untuk para warga yang hendak meminjam buku bacaan yang dibutuhnya seperti pendidikan, ekonomi, social, teknologi dll.
Di lain pihak, penerbit (dan penulis) buku bisa melakukan langkah inovatif dan konket di hadapan warga desa dengan menyumbangkan buku secara Cuma-Cuma kepada pihak kelurahan atau sukarelawan yang peduli dengan kepentingan umum. Selain itu, penerbit memberikan diskon lebih besar bagi pembeli sebagai stimulus agar mereka haus akan ilmu pengetahuan dan menghilang citra masyarakat bahwa buku itu mahal dan boros.
Sementara itu, ada mungkin sedikit orang dewasa yang tidak dapat membaca dan menulis alias buta buruf. Ini menuntut ketelatenan dan kesabaran bagi guru, pembimbing, sukarelawan untuk mengajari baca tulis secara sederhana dan praktis. Segera setelah mereka lancer membaca, maka cepat-cepatlah untuk mengajak menggali informasi dan pengetahuan lewat tulisan sesuai dengan tingkat kemampuannya.
Dengan demikian, diharapkan hati nurani masyarakan akan terdorong untuk lebih memburu informasi dan pengetahuan lewat media cetak dan media buku. Lebih baik pula apabila semua pihak pemerintah, swasta, dan masyaraakt saling membantu dan menyadari akan pentingnya membudayakan membaca untuk menimimalkan pengaruh negative akibat deras arus teknologi yang tidak terbendung. Tiada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan!
*) Penulis adalah Pemerhati pendidikan, sosial dan agama, Manager Brilliant Collection.
Email: brilliantcollection@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar