Meningkatkan Sentuhan Spritual dalam Belajar
Oleh: Khaerul Khakim
Ujian nasional akan segera tiba dan para siswa yang hendak menghadapi ujian pun semakin merasa gelisah. Lalu berbagai upaya dilakukan di sekolah masing-masing demi untuk mengejar bahan atau menambah materi yang akan diujikan dalam ujian nasional kelak. Akibatnya, sebagian peserta didik harus ekstra keras dalam mempersiapkan fisik dan psikis agar mampu bertahan selama seharian di sekolah dari pagi hingga sore, hanya berharap sukses dan lulus sekolah.
Otak anak-anak yang menjadi panas karena belajar yang overload, bisa menyebabkan capek, lelah, dan bahkan sakit kepala dan badannya. Problem seperti ini sepatutnya diperhatikan oleh berbagai pihak utamanya sekolah, agar tidak tidak terjadi masalah di kemudian hari. Misalnya, seorang siswa yang sedang sakit terpaksa mengerjakan ujian nasional di rumah sakit.
Sungguh disayangkan apabila anak didik dipenuhi soal-soal latihan dan bertumpuk-tumpuk materi pelajaran dalam waktu beberapa minggu saja. Ada kesan dipaksakan menyelesaikan bahan ajar dengan cepat dan tuntas, sebelum akhirnya siswa bertarung di dalam ujian kelulusan tersebut. Apakah dalam waktu sekitar hampir tiga tahun, pelajaran tidak dapat diberikan dengan teratur dan terencana? Mengapa harus ada jam tambahan pula?
Mari kita amati, banyak sekolah yang kini memulai jam belajar dari pagi hingga sore. Belajar di sekolah dimulai tujuh pagi dan berbagai materi diajarkan. Setelah jam sekolah usai, istirahat sebentar, lalu dilanjutkan dengan belajar tambahan khusus pelajaran ujian nasional, hingga sore hari. Dampak negatif dari aturan sekolah tersebut, di antarnya ialah orang tua siswanya harus mengeluarkan dana tambahan untuk biaya bimbingan belajar, lalu secara jasmani dan rohani, si anak tentu mengalami kelelahan dan kejenuhan, atau mungkin pusing dan meriyang karena ketahanan tubuhnya melemah.
Di sisi lain sentuhan psikologis dan spiritual di sekolah begitu minim. Para siswa jarang diajak untuk memperbanyak doa dan zikir mengingat Allah, dalam setiap waktu, pagi, siang dan malam. Jika usaha secara religius tidak terpenuhi, maka bisa menyebabkan stress dan gelisah berat bagi para pelajar, karena khawatir usaha kerasnya tidak akan berhasil alias tidak lulus sekolah. Anak-anak condong mencari obat penghilang tekanan batin mendengarkan musik, jalan-jalan tak tentu tujuan, ngerumpi dan kegiatan yang kurang bermanfaat lainnya. Dan lebih celaka lagi jika jalan pikirannya sudah sangat kacau balau dan akhirnya beraksi nekat yang dapat membahayakan diri sendiri.
Oleh karena itu, bagi sekolah dinilai perlu untuk melakukan pendekatan psikologis dan keagamaan agar tertanam ketentraman dan ketenangan dalam menghadapai berbagai masalah kehidupan, secara internal dari diri individu dan eksternal dari lingkungan. Dengan demikian diharapkan upaya yang dilakukan secara lahiriyah yakni meningkatkan frekuensi belajar di sekolah, dan diiringi berdoa yang ikhlas, tulus kepada Tuhan, maka apapun hasilnya kelak diserahkan kepada Yang Maha Mengetahui. Pada hakikatnya, keberhasilan itu bisa jadi mengandung kebaikan dan kegagalan juga belum tentu bernilai buruk, justru ada kesempatan untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan dimiliki tiap individu.
Ketahuilah, di setiap diri siswa memiliki karakter dan watak serta kemampuan yang berbeda-beda. Maka dari itu, pelayanannya pun seyogianya tidak disamaratakan. Ada sebagian siswa yang cepat menangkap materi, ada pula yang lambat atau lemah menerima pelajaran tertentu. Namun cepat tanggap dalam ketrampilan lainnya. Setelah kemampuan tiap siswa dapat dideteksi, langkah selnjutnya mengadakan bimbingan untuk siswa yang terdapat kelemamaan di bidang tertemtu.
Di samping itu, alangkah bijaksana, apabila diselenggarakan program pendidikan dan pelatihan terhadap guru agar lebih memahami materi ajar dan pengetahuan psikologis dan spiritual atau ilmu agama yang cukup. Pemahaman religius sebaiknya tidak hanya dihayati oleh guru agama saja, akan tetapi dipelajari pula oleh seluruh pengajar dan pendidik. Hal itu dimaksudkan agar tumbuh suasana damai dan sejuk di dalam kelas, karena guru mampu memberikan rasa aman dan tenang di jiwa setiap peserta didik ketika pelajaran berlangsung.
Dengan metode atau pendekatan psikologis dan religius, ditambah secara kognitif, penguasaan bahan pelajaran yang baik, maka kemungkinan besar sang guru pun mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didiknya dengan sabar, ramah, bersahabat dan sedapat mungkin meminimalisir emosi yang terkadang muncul secara tiba-tiba. Sehingga anak-anak termotivasi untuk semakin giat belajar tanpa merasa tertekan dan terpaksa. Dan perlu pahami bahwa guru, pengajar, pendidik sejatinya sekadar berusaha membantu agar siswa didiknya dapat mengembangkan potensi-potensi dalam diri mereka. Selebihnya, hanya kepada Tuhanlah kita meminta pertolongan dan pentujuk (QS.1: 5 dan 6). Kita mengharapkan bantuan-Nya untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
Rohandi dan Paul (2000) menyatakan bahwa mengajar bukan mencekokkan bahan sains (baca: ilmu pengetahuan) kepada siswa agar dihafalkan. Tetapi, guru lebih memberikan persoalan atau permasalahan dalam kelas yang menyangkut sains. lalu, siswa secara aktif mencoba untuk mencari pemecahan, baik lewat percobaan, pengamatan, diskusi, dan sebagainya. Dengan begitu, siswa diharapkan benar-benar memahami apa yang telah dipelajarinya, tidak sekadar tahu secara teroritis saja. Ingatlah, tugas guru adalah tidah hanya mengajar, tetapi juga mendidik serta melatih peserta didiknya.
Apabila beberapa pendekatan, yakni kognitif, psikologis dan spiritual dapat terpenuhi dalam diri guru (dan kepala sekolah), maka diharapkan para siswa bersiap-siap menghadapi dan melaksanakan ujian nasional, secara fisik, mental, psikis, dan pikiran serta mampu menerima segala hasil atas jerih payah yang dilakukannya dengan maksimal. Dan semoga segala unsur-unsur persiapan positif itu kelak dapat membawa kebaikan di luar sekolah, yakni keluarga dan masyarakat sekitanya. Wallahu a’lam.
*) Khaerul Khakim: Guru SMK Baitussalam Kota Pekalongan; Pengamat Bidang Keagamaan, Sosial dan Pendidikan, tinggal di Pekalongan
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar