Selasa, 16 Juni 2009

Menjadi Figur Guru Ideal
Oleh: Khaerul Khakim, SPd.I

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diwajibkan untuk diikuti oleh setiap orang terutama manusia muda (baca: peserta didik). Dan salah satu faktor penunjang keberhasilan pendidikan adalah peranan pendidik (guru). Tidak jarang pembahasan tentang tugas dan peran guru menjadi bahan perbincangan yang serius ketika muncul masalah-masalah pada diri siswa di sekolah. Gurulah yang pertama ditegur, kenapa begini dan kenapa begitu sehingga harus ada problem-problem bermunculan. Di sisi lain, sangat sedikit sekali bahkan hampir tidak pernah, setiap guru teladan mendapat penghargaan dari berbagai pihak ketika guru telah menunjukkan prestasinya.
Sebagaimana profesi lainnya, diakui atau tidak, guru juga pasti memiliki kelebihan dan kelemahan. Kekurangan guru di antara ialah 1) akademik yang kurang memadai; 2) kurang profesional; 3) kurang memahami ilmu kependidikan (pedagogik); 4) minimnya semangat belajar dan berinovasi dan berkreasi; 5) memadang sebagai profesi belaka. Ironisnya lagi, para guru lebih suka berdemo turun ke jalan, untuk menyampaikan aspirasi, menuntut ini itu, ketimbang mengemukakan ide dan gagasan melalui pena/tulisan. Memang langkah unjuk rasa semacam itu tidak salah, tapi juga bukan satu-satunya cara yang efektif dan efesien untuk menyampaikan keluhan-keluhan dan ketimpangan yang terjadi di dunia pendidikan (sekolah).
Sebuah surat kabar lokal mengabarkan bahwa sebanyak 11 ribuan guru, hanya 0,05 persen saja yang telah melakukan pengembangan profesi dengan membuat karya ilmiah atau penelitian (Radar Pekalongan, 29/5/2009). Dilaporan harian ini pula, minat guru minim karena para guru masih terjebak dengan rutinitas mengajar yang dilakukan setiap hari di kelas. Dan pola pengajaran guru masih konvensional tanpa mencoba berkreatifitas dengan mengembangkan penelitian yang mampu meningkatkan mutu pengajarannya di kelas. Tampaknya, budaya bertutur, berceramah dan bercerita seolah mendominasi dan berurat akar di kalangan guru sehingga sulit untuk membiasakan diri dengan menulis atau meneliti secara sistematis, tak sekadar mencatat bahan ajar di kelas.
Melihat beberapa masalah-masalah tersebut di atas, maka untuk mendeteksi dan menganalisa tentang keprofesionalitasan guru, agaknya perlu diketahui bagaimana sebenarnya tugas utama guru? Bagaimana kualifikasi kompetensi profesional guru? Bagaimana agar menjadi guru yang teladan dan ideal?
Tugas Guru
Secara garis besar tugas pokok guru (seperti dikemukakan Uzer Usman, 2002) terbadi dalam tiga bagian yakni, pertama, tugas sebagai profesi. Tugas ini meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan ketrampilan pada siswa Kedua, tugas guru merupakan tugas kemanusiaan. Hal ini berarti guru sebagai sebagai orang tua kedua di sekolah yang mana guru menganggap siswanya seperti anak sendiri. Dan ketiga, tugas guru di bidang kemasyarakatan. Yakni bahwa masyarakat menempatkan guru di tempat yang terhormat di lingkungannya, karena dari seorang guru masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Bahkan Tuhan berjanji akan mengangkat derajat orang yang berilmu dan beriman (lihat QS. 58: 11)
Lebih jauh, tugas utama profesi guru bukan hanya cukup memahami materi yang harus disampaikan, akan tetapi juga diperlukan kemampuan dan pemahaman tentang pengetahuan dan ketrampilan lainnya, seperti psikologi perkembangan manusia (Wina Sanjaya 2000). Tugas guru lainnya adalah mempersiapkan generasi manusia yang dapat hidup dan berperan aktif di masyarakat. Juga, guru memberi support, mencari bakat, membimbing dan mengarahkan anak didiknya. Maka dari itu, pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian secara global, karena guru memilik tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era hiperkomptensi (Joko Susilo, 2007).
Dengan kata lain, pekerjaan guru bukanlah pekerjaan yang statis, tetapi pekerjaan yang dinamis yang selamanya harus sesuai dan menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, guru diharapkan mempunyai sikap ingin tahu sehingga dapat mendorong para guru untuk serius belajar, dan guru akan mendapat motivasi untuk berkembang terus menerus, seperti kegiatan membaca sehingga guru menemukan hubungan antara teks dan konteks sebuah bacaaan. Agar guru dapat memiliki jiwa inovatif dan kreatif, maka hendaknya ada pengarahan, bimbingan sedemikian rupa, karena selain sebagai pengajar guru juga termasuk manusia pembelajar. Meminjam istilah Nistain Odop (2006), ilmu tidak pernah usang, semakin kita sering belajar semakin pandai kita.
Seperti yang kita tahu bahwa tugas dan tanggung jawab profesi guru cukup berbeda dengan profesi lainnnya. Profesi yang berbasis ilmu-ilmu keras tertentu benar-benar mengondisikan penyandang profesi itu untuk melakukan praktik-praktiknya berdasarkan teori keilmuwannya (Sudarwan Danim, 2002). Sebagai contoh, seorang fisikawan yang didukung oleh sains yang kompleks, tradisi otoritas profesional yang tercakup, dan institusi yang kuat dan berpengaruh serta kesejahteraan pribadi. Sementara guru menerima sedikit jumlah pelatihan awal yang dimasukkan dalam pekerjaan kompleks dengan sedikit bantuan formal, mempunyai sedikit prestise dan banyak mendapatkan cacian serta berada di bawah naungan institusi yang kurang berpengaruh. Dan guru dilatih menjadi spesialis untuk membantu memecahkan masalah-masalah keseharian dalam berhubungan dengan siswa.
Pada umumnya, untuk menjadi guru teladan terutama di sekolah itu gampang-gampang susah. Sebagai contoh, ada kecenderungan di menarik di dunia persekolahan kita, guru yang dielu-elukan, dipuji dan diberi gelar sebagai guru yang baik adalah guru yang murah dalam memberi nilai dan gaul dalam arti mau terlibat langsung dengan aktivitas murid, serta menuruti semua keinginan siswa (Kompas, 10/9/2008). Padahal guru memiliki peran lain yang sangat penting yaitu dalam pembentukan karakter anak didik. Guru seyogianya juga mengajar dengan ikhlas, tidak semata-mata untuk mendapatkan upah, balasan, dan ucapan terima kasih (atau pujian) dari anak didik. Di samping itu, guru seharusnya mengajar dengan kasih saying, tidak dengan kekerasan, ejekan dan sindiran serta guru mengamalkan ilmunya dan jangan sampai perkataannya membohongi perbuatannya. Pendek kata, guru boleh keliru atau salah, tetapi tidak boleh berbohong dengan sengaja. Sebaliknya, guru harus jujur dan rendah hati serta sopan santun dalam bertutur dan bertindak.
Kompetensi Profesional
Guru termasuk salah satu tenaga yang profesional yang memiliki beberapa tugas tertentu. Dalam UU RI no. 2 tahun 2003 disebutkan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas 1) merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran; 2) menilai hasil pembelajaran; 3) melaksanakan pembimbingan dan pelatihan; 4) serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Kelihatannya tugas guru sederhana, tapi sejatinya cukup berat untuk dilaksanakan oleh sebagian guru.
Masalah yang umum muncul sekarang adalah kelemahan utama yang ada pada guru yang berupa kurangnya di bidang pengembangan profesi Bagi guru yang telah memenuhi kualifikasi akademik saja masih banyak kesulitan atau kekurangan kemampuan dalam pengembangan profesi akademiknya maupun pengembangan profesinya (Welas Waluyo, 2007), seperti keikutsertaan lomba akademik, penyusunan buku, penulisan artikel di media cetak, dan sepeti penelitian dan pengabdian masyarakat.. Hal itu (mungkin saja) disebabkan karena kesualitan dan kemalasan pada diri pribadi guru, sikap egoisme yang berlebihan, tidak mau bertanya dan belajar. Kendala lainya karena kurang minatnya memebaca dan menulis, serta lainnya yang intinya minimnya motivasi untuk menciptakan karya ilmiah yang dapat menunjang profesi guru.
Guru profesional dituntut sedikitnya memiliki tiga kecakapan (Wawasan, 14/12/2008) yaitu pertama, kompetensi kognitif, yang meliputi pengetahuan kependidikan dan pengetahuan mata pelajaran yang akan diajarkan guru. Kedua, kompetensi afektif yang meliputi perasaan dan emosi, yakni sikap dan perasaan diri yang berkaitan dengan profesi keguruan. Dan ketiga, kompetensi psikomotor, yang meliputi ketrampilan/kecakapan yang bersifat jasmaniah, yang pelaksaannya berhubungan dengan tugasnya selaku pengajar. Untuk diakuti sebagai bagian dari kompetensi profesional guru, ketrampilan (atau kompetensi-kompetensi) itu harus dapat dipraktekkan berulang-ulang walau bentuknya tidak sama persis tetapi sesering mungkin bukan hanya kebetulan terjadi satu kali (Wragg, 1997).
Pada bagian lain, sebagai sebuah profesi, sudah sewajarnya guru diperlakukan secara profesional sesuai dengan hak-hak profesionalnya, termasuk kesejahteraan. Namun demikian, guru juga harus menepati kewajiban-kewajiban secara baik, penuh tanggung jawan dan profesional (Agus Mutohar, 2008). Guru juga sebagai pemimpin (manajerial) yang memimpin, mengendalikan diri, upaya mengarahkan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan dan partisipasi atas program yang dilakukan (Abdul Khobir, 2007). Di sini guru dituntut untuk dapat mengatur dan mengelola situasi dan kondisi siswa (di kelas dan di sekolah) sedemikian rupa agar proses belajar balajar berjalan dengan mulus, menyenangkan sehingga pemindahan materi ilmu pengetahuan dapat ditrima dengan baik oleh peserta didik.
Ada dua bentuk strategi keteladanan pada guru, yaitu pertama, yang disengaja dan dipolakan sehingga sasaran dan perubahan perilaku dan pemikiran anak sudah direncanakan dan ditargetkan, yaitu seorang guru sengaja memberi contoh yang baik kepada muridnya supaya dapat menirunya. Kedua, yang tidak disengaja, dalam hal ini guru terampil sebagai figur yang dapat memberikan contoh yang dalam kehidupan sehari-hari (Radar Pekalongan, 25/5/2009). Namun, pada umumnya, guru (dosen dan para ahli pendidikan) di negeri ini mengajarkan kehidupan pragmatis dan konsumtif, maka hasilnya kita menjadi orang yang sangat mengagungkan semua penyelesaian semua masalah ini dengan cara pragmatis, insant, tidak mau bersusah payah, tidak mau antri, tidak mau sesuai prosedur, bahkan beberapa hal kita sudah tidak peduli lagi dengan proses (A.Khoerudin, 2005). Contohnya, Guru menyuguhkan soal dengan format mutiple choice (pilihan ganda) dengan alasan mudah mengoreksinya.
Oleh sebab itu, guru yang teladan harus profesional dalam menjalankan segala tugasnya (utamanya) sebagai pendidik, tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku dan tentunya memiliki setidaknya empat kompetensi, yakni kompentesi pedagogik, kompetensi akademik, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian (Joko Susilo 2007). Dengan kompetensi pedadagoik, memungkinkan guru dapat menggunakan metode mangajar dan mendidik dengan benar. Kompetensi akademik yang menggambarkan seseorang memiliki kemampuan beripikir secara ilmiah. Sedangkan dengan adanya kompetensi sosial dan kepribadian, diharapkan guru memiliki jiwa sosial, peduli yang tinggi terhadap masyarkat dan juga memiliki karakter dan moral yang mulia.
Syarat kepemilikan empat kompetensi di atas, bukanlah persoalan mudah manakala dimaknai tidak sekadar berdimensi teoretis, tetapi lebih pada dimensi praktis (Rosyidah, 2004). Kompetensi pedagogik mengharuskan guru memiliki jiwa pendidik yang mendarah daging. Artinya, nilai-nilai pendidikan tidak sekadar dihafal secara teoretis, tetapi telah menjadi bagian dari perilaku dirinya. Begitu pula dengan kompetensi kepribadian, mengisyaratkan adanya kepemilikan pribadi yang paripurna (insan kamil). Dengan demikian, diharapkan pribadi guru menjadi personifikasi nilai-nilai, bukan sekadar kamuflase, sehingga menjadi contoh nyata yang dapat diteladani siswa. Kompetensi sosial tentu bermakna lebih luas lagi. Guru dituntut mampu berperan maksimal dan ideal dalam berbagai tatanan pergaulan dengan berbagai kalangan dan variasi pandangan. Kompetensi profesional mengarah pada bidang profesi sehingga relatif mudah mengukurnya mengingat indikatornya relatif jelas, yakni diukur dari kadar kemampuan menyangkut bidang profesinya. Misalnya, guru Bahasa Inggris harus mampu membuat desain pembelajaran bahasa Inggris, mengajarkannya, mengadakan pengamatan proses, dan mengevaluasinya.
Guru Ideal
Menurut Ruslan (2008), ada tiga jenis tantangan utama yang harus dihadapi dan harus mampu diatasi sosok seorang pendidik dalam melaksanakan tugas kependidikannya, yakni: tantangan umum, tantangan sosial ekonomi dan tantangan profesi di lembaga pendidikan dalam menghidupi diri dan keluarganya. Untuk mengatasi ketiga tantangan tersebut tidaklah bijak jika seluruh upaya dibebankan hanya di atas pundak pendidik saja, tetapi wajib melibatkan partisipasi penuh dari pihak pemerintah, orang tua peserta didik dan masyarakat pada umumnya. Ketidakmampuan sosok seorang pendidik dalam mengatasi ketiga jenis tantangan tersebut akan mengakibatkan rendahnya kualitas lulusan dan kualitas pendidikan pada umumnya, serta menurunnya nilai-nilai peradaban bangsa di masa depan.
Memang, dalam masalah ekonomi, seorang guru juga membutuhkan pemenhuhan kesejahteraan agar ia tidak kesulitan untuk membentuk kualitasnya sebagai seorang pengajar (Nurani Soyomukti, 2008). Bagaimana mungkin seorang guru akan membaca buku-buku dan belajar giat untuk menambah stock of knowledge jika untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup. Padahal, apabila guru mengetahui sejumlah ilmu pengetahuan yang luas, maka guru seharusnya bisa menjadi teladan bagi peserta didik, karena pada dasarnya guru adalah representasi dari sekelompok orang pada suatu komunitas atau masyarakat yang diharapkan dapat digugu dan ditiru, diikuti dan dicontoh (Hamzah B Uno, 2007).
Oleh karena itu, agar proses pembelajaran berhasil dan mutu pendidikan meningkatkan, maka diperlukan guru yang memahami dan menghayati profesinya, dan tentunya guru yang memiliki wawasan pengetahuan dan keterampilan sehingga membuat proses pembelajaran aktif, guru mampu menciptakan suasana pembelajaran inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Untuk menjadi guru profesional juga memerlukan pendidikan dan pelatihan serta pendidikan khusus (Isjoni, 2007). Motivasi lain yang mendorong perlunya dilakukan berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan, karena informasi diperoleh bahwa masih banyak daerah-daerah yang belum menjadikan pendidikan dan pelatihan terhadap guru sebagai sesuatu kebutuhan mendasar. Bahkan masih ada kita mendengar guru-guru yang belum pernah sekalipun mengikuti pendidikan dan pelatihan terutama guru-guru yang bertugas di daerah marjinal atau terpencil. Banyak guru bantu dan sukarela mengabdi di sekolah dengan honor yang sangat tidak mencukupi, bahkan ada yang tidak mendapat gaji /tunjangan apapun. Karena sangat terbatasnya fasilitas-fasilitas belajar mengajar di pelosok desa, tentu saja mempengaruhi terhambatnnya pengembangan kompetensi profesional pada guru. Akan tetapi terlepas dari segala kekurangan yang ada, pengorbanan para guru di pedalaman ini pantas mendapat penghargaan khusus dari berbagai pihak.
Ciri pokok profesional adalah apabila seorang memiiliki komitmen yang mendalam terhadap tugasnya (Martinus Yamin, 2008). Kecintaan terhadap tugas ditunjukkan dalam bentuk curahan tenaga, waktu dan pikiran serta penerapan disiplin yang baik dan kuat dalam proses pendidikan akan menghasilkan mental, watak, dan kepribadian yang kuat. Karena itu, diharapkan para lulusan lembaga pendidikan guru di masa mendatang, dapat menunjukkan dirinya sebagai guru otonom dan profesional dengan daya kreatifitas yang tinggi dalam mengelola pembelajaran, inovatif dalam bidangnyadan bidang lainnya, serta tidak hanya puas bila sudah mengajarkan bahan pelajaran (Paul Suparno dkk, 2001). Guru yang otonom berarti guru yang juga sebagai pemikir dan perancang bahan pelajaran yang kritis dan analitis serta berani mengungkapkan berbagai gagasan kreatifnya.
Di samping itu, guru seharusnya dinamis, bersemangat untuk selalu mencari dan mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi, dan ketrampilan terkini yang selalu berkembang setiap hari. Dalam istlah Drost (1998) dikatakan sebagai ongoing formation, menyempatkan diri dengan penuh gairah untuk belajar terus menerus. Dan cara yang baik bukan lewat penataran, tetapi lewat membaca buku atau majalah profesional, mengikuti kursus lisan dan tertulis, mengikuti lokakarya dan seminar yang berbobot, yang mana cara-cara ini menuntut adanya semangat, ketekunan dan rasa tanggung jawab.
Selain hal itu, guru sejatinya memiliki sejumlah kecerdasan untuk membantu menjadi tenaga profesional. Tingkat kecerdasaan seseorang diukur dengan keintelektualan, emosional, sosial, moral, dan spiritual. Seorang guru yang pada dirinya terdapat kecerdasan-kecerdasan tersebut, ia patut diberi apresiasi dengan sebutan guru yang ideal (dan profesional). Selanjutnya, karakteristik guru ideal di antaranya adalah 1) guru mampu memahami dan melaksanakan tugas dan perannya dengan baik dan benar; 2) kompetensi profesional, materi, metode, psikologi, pengembangan profesi (seperti karya ilmiah dan karya tulis); 3) guru sebagai pengajar juga sebagai pembelajar. Karena ada suatu hal yang guru tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu, maka dia sendiri merupakan subyek pembelajaran (E. Mulyasa, 2006). Oleh karenanya, dengan kesadaran bahwa guru tidak mengetahui sesuatu, maka dia berusaha mencarinya melalui kegitan penelitian. Dalam hal ini Paulo Friere (2001) menyatakan bahwa pendidikan yang membebaskan adalah situasi dimana guru dan siswa sama-sama harus belajar, sama memiliki subyek kognitif, selain juga sama memiliki perbedaan. 4). mengikuti proses kemajuan zaman, inovatif, kreatif, dan menggunakan alat peraga yang bervariasi. 5) memiliki spiritual yang tinggi, seperti disebutkan al-Ghazali bahwa guru hendaknya memberikan nasehat dan bimbingan kepada murid berorientasi bahwa tujuan menuntut ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk memperoleh kedudukan dan kebanggaan dunia. Waallahu a’lam.

@ Penulis adalah pemerhati masalah agama sosial dan pendidikan, pendiri brilliant collection tinggal di Pekalongan.

(Alamat: Brilliant Collection, Jl.KH. Ahmad Dahlan IX/2 Tirto Pekalongan 51119, Hp. 085 64 69 84 158)

Senin, 01 Juni 2009

artikel pers

Menjadikan Pers sebagai Media (Alternatif) Dakwah
Oleh: Khaerul Khakim

Pada umumnya, hampir setiap orang mampu berbicara, membaca dan menulis. Namun untuk memberikan informasi atau pesan kepada orang lain dengan baik dan benar, tidaklah semua orang memahami caranya yang efektif. Karena itu, belajar untuk mempelajari, mengetahui, dan mempraktekkan teknis sederhana adalah suatu kegiatan penting, agar suatu pemikiran yang cerdas dapat disampaikan dan diterima oleh diri kita dan mereka yang membutuhkannya. Dan salah satu wadah untuk menampung gagasan, fakta dan sebagainya, maka salah satunya adalah melalui media pers.
Media pers (baca: media cetak) merupakan salah satu media massa (komunikasi) yang bermanfaat untuk menyuguhkan informasi menarik, unik, faktual, dan aktual, yang ditujukan kepada masyarkat umum atau pembaca. Pada insan pers terdiri dari para jurnalis, penulis, pengarang, wartawan, redaksi (manajemen pers) yang berhak menyampaikan berita, fakta, gagasan, insirasi, pemikiran, opini dan sejenisnya di media cetak (koran, tabloid, majalah, jurnal, buletin). Tentu saja format dan isi, atau lebih tepatnya pendangan, visi dan misi setiap media berbeda-beda yang berorientasi pada salah satu atau beberapa persepktif dari berbagai bidang seperti agama, pendidikan, ekonomi dan lainnya.
Pemberitaan dan atau argumentasi yang termuat di media cetak, ibaratnya seperti menu makanan yang sajikan kepada konsumen. Para pembaca boleh memilih informasi yang diperlukan, dan membiarkan begitu saja suguhan yang lainnya. Sementara itu, pers tidak jarang memberitakan berita yang bombastis, mengejutkan, atau tragedi luar biasa untuk menggugah nafsu baca pada khalayak, seperti berita seputar kriminalitas dan bencana alam. Akibatnya, fungsi pers sebagai sarana edukatif terkesan agak merosot dan menipis.
Oleh karena itu, agar pers tetap eksis dan kehadirannya sangat dibutuhkan secara positif, maka alangkah baik pula apabila isi media cetak dibumbui dengan sentuhan dakwah, ajakan berbuat kebaikan. Untuk mendeteksi apakah ada korelasi positif antara fungsi pers dan aktivitas dakwah, perlu kiranya mengupas hal-hal yang berkenaan dengan permasalahan tersebut. Apa sesungguhnya fungsi dan peran pers? Bagaimana memaknai dakwah dalam konteks kekinian? Bagaimana strategi berdakwah melalui media cetak?
Fungsi pers
Definisi pers yaitu, suatu lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang menjalankan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh,memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar serta data grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan jenis saluran yang tersedia. Dimana pers saat ini tidak hanya terbatas pada media cetak maupun media elektronik tetapi juga telah merambah keberbagai medium informasi seperti internet.
Di antara fungsi utama pers adalah: pertama, menginformasikan (to inform). Munculnya jurnalistik adalah karena adanya informasi (berita) yang hendak disampaikan oleh pihak tertentu kepada khalayak masyarakat dengan cara teratur. Khalayak memerlukan pers untuk mendapatkan informasi di muka bumi ini: mengenai peristiwa yang terjadi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dikatakan oang lain, dan sebagainya. Kedua, mendidik (to educate). Fungsi pendidikan dari pers tak kalah penting, karena pada dasarnya manusia membutuhkan berbagai tuntunan dan pelajaran dalam hidupnya. Pers diharapkan dapat memberikan kontribusi yang baik bagi pengembangan kepribadian manusia. Sebagai sarana pendidikan massa (mass education), pers memuat tulisan-tulisan yang mengandung pengetahuan sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. Fungsi mendidik ini dapat secara implisit dalam bentuk berita, juga dapat secara eksplisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana. Kadang cerita bersambung atau berita bergambar juga mengandung aspek pendidikan.
Ketiga, menghibur (to entertain). Fungsi hiburan juga cukup penting, karena manusia membutuhkan hiburan di sela-sela kehidupannya yang serba serius. Pers menceritakan kisah-kisah dunia dengan hidup dan menarik, terkadang diselingi dengan humor yang segar. Tujuan hiburan biasanya juga untuk mengimbangi berita berat (hard news) dan artikel-artikel berbobot. Hiburan dapat ditampilkan dengan berita ringan, pemuatan cerita, teka-teki, karikatur, dan sebagainya. Keempat, mempengaruhi (to influence). Fungsi mempengaruhi dari pers secara implisit terdapat pada berita sedangkan secara eksplisit terdapat pada tajuk rencana dan artikel. Fungsi mempengaruhi khusus dalam bidang perniagaan terdapat pada iklan-iklan atau display suatu produk. Karena fungsi pers mempengaruhi ini menyebabkan pers memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Kelima, memberikan respon social (control social). Fungsi ini merupakan fungsi yang paling banyak disinggung dalam setiap perbincangan mengenai pers. Hal ini disebabkan kehidupan manusia tak pernah mencapai kondisi ideal seperti yang dicita-citakan setiap agama maupun ideologi. Hidup kita dikelilingi oleh ketidakadilan, penyimpangan nilai-nilai moral, kejahatan yang makin brutal, penindasan, dan sebagainya. Di sinilah pers ikut menjalankan peran untuk saling mengingatkan sesama manusia.
Keenam, penghubung (mediasi). Di sini pers sebagai media atau instrumen yang berfungsi menjembatani antara kenyataan dengan pengalaman individu masyarakat. Fungsi mediasi tersebut dalam perjalanan justru menunjukkan peran media sebagai sumber informasi yang diyakini memiliki banyak kelebihan (menurut Quail yang dikutip oleh Muchamad Yuliyanto, 2005) di antaranya: (1) media mampu menjangkau lebih banyak orang daripada intitusi lainnya, hal ini terbukti dengan daya jangkau media elektronik maupun cetak akhir-akhir ini yang hampir mampu mengkover wilayah geografis mana pun. (2); kegiatan media (yang ditunjukkan dengan format dan isi) selalu berhubungan dengan publik atau menciptakan privacy seseorang seolah telah menjadi milik publik meski terkadang amat melanggar hak pribadi seseorang, sebagaimana tayangan infotainment, berita selebritis, belakangan ini; (3) media sebagai jaringan interaktif yang menghubungkan pengirim dengan penerima beserta umpan baliknya; (4) media sebagai pembawa atau pengantar informasi yang amat dibutuhkan masyarakat.
Selain fungsi tersebut di atas, pers juga dianggap mempunyai fungsi ekonomi, yaitu melayani sistem ekonomi melalui iklan. Dengan menggunakan iklan, penawaran akan berjalan dari tangan ke tangan dan barang produksi dapat terjual. (Hikmat Kusumaningrat: 2007). Di pihak lain Toto Djuroto (2004) bahwa pers juga dikatakan sebagai lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang pengumpulan dan penyebaran informasi yang mempunyai misi ikut mencerdaskan masyarakat, menegakkan keadilan dan memberantas keadilan. Dijelaskan pula, pers harus mempunyai jiwa dan semangat untuk menjalin kesetiakawan, bantu membantu, saling melakukan kontrol untuk kemajuan bersama. Dengan kata lain, dalam lingkup luas, pers sewajarnya ikut serta dalam pembangunan nasional tanah airnya. Secara kritis Surjomiharjo (2004) menambahkan, “Tugas pers nasional tidak hanya memberi penerangan kepada para pembaca tentang kejadian-kejadian setiap hari di sekitar kita, menjukkan arti beberapa fakta, mendidik pembacanya, tetapi juga untuk memperhatikan dan menunjukkan kebobrokan dan kekurangan dalam masyarakat.”
Dalam dunia pers, biasanya tersedia ruang khusus yang berisi artikel atau opini. Artikel diartikan sebagai sebuah karangan faktual (nonfiksi) tentang suatu masalah secara lengkap, yang panjangnya tak tentu, untuk dimuat di surat kabar, majalah, buletin, dan sejenisnya. Tujuan dibuatnya tulisan tersebut untuk menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan suatu masalah, atau menghibur.
Secara garis besar, motivasi menulis artikel (dan sejenisnya) didasari atas motivasi internal dan eksternal (Nurudin, 2005). Motivasi internal berupa antara lain: menuangkan ide, gagasan, pikiran, ilmu pengetahuan; sebagai tugas suci (seperti tugas ulama, cendekiawan, ilmuwan, dai); rasa syukur atas kemampuan akal dan tanggung jawab sosial. Mengenai wujud syukur ini, Herry Tjahjono (2009) menyatakan bahwa menjalankan sebaik-baiknya apa yang ada di tangan adalah ‘ibadah’ paling bernilai (bentuk rasa syukur paling kongret), yang bukan hanya berguna bagi kita, tetapi juga bagi manusia lain yang terkait dengan kita.
Sedangkan motivasi eksternal seperti mendapat penghasilan; mencari popularitas; karena tuntutan karir (bagi profesi seperti pegawai negeri, pejabat, pendidik). Selain motivasi, perlu juga mengetahui secara teknis ciri-ciri umum tulisan artikel, yang di antaranya adalah (a). lugas, langsung menuju persoalan; (b). objektif dan cermat; (c). logis, jelas dan padat; (d). memperhatikan bahasa baku; (e). terbuka dan tidak egois; (f). tidak menyudutkan/membela salah satu individu atau kalompok.
Terlepas dari segala aturan-aturan tentang penulisan artikel, pencarian solusi dari suatu masalah merupakan hal lebih penting. Sebagaimana dikemukakan oleh Sudirman Tebba (2005), yang menyatakan, “Penulisan artikel pada akhirnya tidak ditentukan tekniknya, tetapi lebih pada pengusaan masalah. Masalah yang ditulis akan dikuasai kalau biasanya membaca sebanyak-banyaknya. Karena sumber tulisan terutama berasal dari bacaan yang kemudian digabungkan dengan pengalaman empiris”. Jadi, singkatnya, siapapun dan dari latar belakang apapun, kita bisa memberikan ide-ide yang cerdas melalui media tulisan, yang mungkin bermanfaat untuk orang lain.

Media dakwah
Dakwah adalah suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain secara individual maupun secara kelompok agar supaya timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan, serta pengamalan terhadap ajaran agama sehingga pesan yang disampaikan kepadanya dengan tanpa adanya unsur paksaan.
Media (jenis) dakwah berupa: pertama, dakwah dengan lisan: (pidato, ceramah, kuliah, bimbingan) atau disebut juga Dakwah Ammah. Dakwah lisan merupakan jenis dakwah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khotbah (pidato). Dakwah ini kalau ditinjau dari segi subyeknya, ada yang dilakukan oleh perorangan dan ada yang dilakukan oleh organisasi tertentu yang berkecimpung dalam soal-soal dakwah.
Kedua, dakwah dengan tulisan. Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah melalui tulisan baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif. Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat. Ketiga, dakwah dengan akhlak, perbuatan, teladan. (Dakwah bil-Haal). Dakwah melalui adalah dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah mengikuti jejak dan hal ikhwal si Da’i (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah.
Adapun teknik pendekatan yang bisa dilakukan dalam dakwah adalah pertama, persuasif/motivatif, yakni bahwa diharapkan juru dakwah menyampaikan dakwah dengan cara yang arif atau bijak, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan semacam ini dikatakan sebagai dakwah bi al-hikmah dimana yang menggunakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasif.
Kedua, pendekatan konsultatif. Biasanya dakwah dengan lisan sering dilakukan secara monolog, yakni penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subyek dan obyek dakwah) di tempat ibadah, tempat pengajian agama. Namun, dalam pendekatan konsultatif, di sini ada semacam tanya jawab atau dialog interaktif tentang masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. Maka pada pendekatan ini, dakwah cocok diadakan di forum kajian yang disampaikan menyangkut masalah ibadah praktis, yang mana konteks sajiannyaterprogram dan disampaikan dengan metode dialog dengan hadirin (audience) secara langsung, atau tak langsung lewat media massa. Ketiga, pendekatan partisipatif. Pendekatan ini menuntut pemberi dakwah untuk memberikan teladan, contoh yang baik kepada si penerima dakwah, sehingga tingkah laku dan ucapan dan pesan bijak ditiru oleh pendengar.
Ruang Lingkup kegiatan dakwah yaitu memberikan bimbingan kearah pembinaan yang bersifat akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah, seperti tauhid, sholat, zakat, puasa, pengetahuan agama.juga memberikan bimbingan ke arah pembinaan yang bersifat amaliah yang meliputi bidang-bidang ekonomi, pendidikan, rumah tangga, social, kesehatan, politik. (Kayo, 2007). Menurut Mas’udi (2003) dakwah disebut juga amar ma’ruf nahi munkar, yang merupakan kewajiban setiap mukmin dimana saja, kapan saja yang objeknya adalah segi-segi kehidupan yang kita hadapi dalam segala dimensinya: politik, sosial, budaya, dan keagamaan. Sedangkan esensi dakwah merupakan aktivitas dan upaya untuk mengubah manusia baik individu maupun masyarakat dari situasi yang tidak baik kepada situasi yang lebih baik. (M. Munir, 2006).
Allah SWT berfirman; “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah dengan cara yang baik…”. (QS.An Nahl: 125). Dalam ayat ini dapat ditemukan metode-motode yakni, pertama, dakwah ditujukan kepada jalan Allah, bukan kepada jalan hidup yang lain; kedua, dakwah dilakukan dengan bijak (hikmah), melihat mempertimbangkan kondisi penerima dakwah; ketiga, dakwah harus dilakukan dengan nasehat atau pengajaran yang baik; keempat, dakwah bisa juga dengan menggunakan metode diskusi dan bertukar pikiran; kelima, dai tidak boleh berputus asa dan harus berlapang dada.

Media Alternatif
Dalam dunia tulis menulis artikel dan sejenisnya seyogyanya perlu ditanamkan motivasi dari dalam diri sendiri dan luar diri individu. Diperlukan juga melahirkan ide, pengetahuan, pengalaman, serta ketrampilan teknik penulisan untuk menciptakan tulisan berkualitas dan pesan dari penulis dapat diterima dengan jelas oleh pembaca umum. Dan penting juga untuk mengetahui karakter media cetak yang diyakini mau memuat tulisan (artikel). Penulisan di media dimaksudkan agar pesan dari penulis bisa dipahami dengan jelas oleh penerima pesan, dan dapat pula di simpan pesan tersebut karena mungkin sewaktu-waktu dipelukan kembali.
Manfaat penyampaian informasi dengan tulisan tentu berbeda dengan model ceramah (ucapan) langsung. Lihat misalnya, ketika pidato seorang ustadz (guru agama) di masjid hanya bisa didengarkan oleh puluhan atau ratusan orang, maka dengan sentuhan ilmu jurnalistik (baca: menulis di media cetak), ceramah ahli agama bisa disebarluaskan kepada ribuan bahkan jutaan orang di luar masjid. Untuk itu, keterampilan jurnalistik yang harus dimiliki, utamanya adalah kemampuan menulis berita (news), keterampilan men-transkript ceramah dan mengubahnya menjadi sebuah tulisan atau berita, menulis dan mengirimkan siaran pers (press release), serta mengelola buletin dakwah.
Namun demikian, dakwah melalui media cetak, kini seolah dianggap sudah ketinggalan zaman, informasi terlambat, tidak cepat. Menyangkut hal itu, Bhayu Subrata (2008) menjelaskan bahwa dakwah yang baik adalah yang mampu menyesuaikan dengan kondisi zaman (up to date). Maka penggunaan media (alat/instrument) dalam berdakwah juga terus mengalami perubahan. Selalu ada variasi dalam hal media dakwah. Zaman terus berganti, seiring dengan kemajuan pemikiran manusia, maka para da’i (pemberi dakwah) pun cepat beradaptasi. Mulai di alam nyata sampai alam maya. Mulai media cetak seperti buletin, koran, tabloid, dan buku dsb, hingga radio, televisi bahkan situs internet. Memang salah satu alasan penggunaan media adalah supaya dakwah ini lebih mudah diterima, lebih cepat sampai ke masyarakat.
Agaknya dakwah lewat dunia maya sedang marak akhir-akhir ini. Dakwah melalui jaringan internet sangat efektif dan potensial dengan berbagai alasan, diantaranya (1) mampu menembus batas ruang dan waktu dalam sekejap dengan biaya dan energi yang relatif terjangkau. (2) pengguna jasa internet setiap tahunnya meningkat drastis, ini berarti berpengaruh pula pada jumlah penyerap misi dakwah. (3) para pakar dan ulama yang berada di balik media dakwah via internet bisa lebih konsentrasi dalam menyikapi setiap wacana dan peristiwa yang menuntut status hukum syar’i. (4) dakwah melalui internet sudah menjadi salah satu pilihan masyarakat. Berbagai situs dapat dipilih materi dakwah yang disukai. (5) cara penyampaian yang variatif telah membuat dakwah via internet bisa menjangkau segmen yang luas.
Seorang muslim dapat memanfaatkan internet dan menggunakannya untuk kepentingan agama dengan melakukan hal-hal seperti berikut ini: (1) mengakses inforrmasi terkini berupa berita, fatwa, dan di segala bidang keagamaan, kemudian menyebarkannya untuk memberi motivasi kepada orang lain untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan hina; (2) menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. Hal ini sudah dibuktikan memiliki dampak yang sangat efektif; (3) memotivasi para pengguna internet untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan RasulNya.
Apakah dakwah hanya disampaikan oleh ahli agama saja? Jika dakwah itu secara sederhana dimaksudkan sebagai usaha seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mampu melakukan perubahan, baik pikiran, perasaan, sikap maupun perilakunya, maka apapun bentuk kegiatannya, termasuk menulis, seorang kolumnis pun bisa disebut da’i. Melalui karya tulisnya, seorang penulis akan berusaha mempengaruhi para pembacanya sehingga mampu menyentuh audien dalam jumlah yang bisa melebihi para pendengar ceramah akbar sekalipun. (Muhtadi, 2008). Ringkasnya, para penulis juga sebetulnya selalu terlibat dalam kegiatan dakwah. Bahkan usia dakwah tulisan akan jauh lebih panjang dibanding dakwah lisan.
Dijelaskan Muhtadi (2008) ada beberapa kelebihan media tulis jika dibandingkan dengan media lisan, termasuk dalam kegiatan berdakwah. Salah satunya adalah bahwa media tulis umumnya memiliki struktur paparan yang lebih rapih dibanding media lisan. Pesan-pesan yang dirangkai dalam tulisan dapat dirumuskan secara lebih hati-hati, sehingga jika sewaktu-waktu penulis melakukan kesalahan pada saat menulis, ia dapat memperbaikinya sebelum dibaca oleh pembaca. Tulisan juga kini dapat menjadi alternatif pemecahan ketika masyarakat sudah tidak mampu lagi meluangkan waktu untuk menghadiri pengajian, mengikuti dakwah-dakwah Islam yang disampaikan dalam bentuk ceramah lisan di masjid-masjid.
Sementara itu, di kalangan perguruan tinggi, para mahasiswa Muslim dapat menjadikan Pers Kampus sebagai media dakwah, tepatnya media dakwah dengan pena atau tulisan (da’wah bil qolam). Untuk menjadikannya sebagai media dakwah, maka visi dan misi yang diemban pengelola Pers Kampus hendaknya jurnalistik Islami. Jurnalistik Islami adalah dapat dirumuskan sebagai suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam, khususnya yang menyangkut agama dan umat Islam, serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran Islam kepada khalayak melalui media massa.
Setidaknya ada beberapa peran media massa sebagai media dakwah (Romli, 2005), yaitu: pertama, sebagai Pendidik, yaitu melaksanakan fungsi edukasi yang Islami. Ia harus lebih menguasai ajaran Islam daru rata-rata khalayak pembaca. Lewat media massa, ia mendidik umat Islam agar melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, Sebagai Pelurus Informasi. Setidaknya ada tiga hal yang harus diluruskan oleh para jurnalis Muslim. (1) informasi tentang ajaran dan umat Islam. (2) informasi tentang karya-karya atau prestasi umat Islam. (3) lebih dari itu jurnalis Muslim dituntut mampu menggali –melakukan investigative reporting– tentang kondisi umat Islam di berbagai penjuru dunia.
Ketiga, sebagai Pemersatu, yaitu harus mampu menjadi jembatan yang mempersatukan umat Islam. Oleh karena itu, kode etik jurnalistik yang berupa impartiality (tidak memihak pada golongan tertentu dan menyajikan dua sisi dari setiap informasi harus ditegakkan. Keempat, sebagai Pejuang, yaitu pejuang-pembela Islam. Melalui media massa, jurnalis Muslim berusaha keras membentuk pendapat umum yang mendorong penegakkan nilai-nilai Islam, menyemarakkan syiar Islam dan mempromosikan citra Islam yang positif.
Dari uraian di atas ada poin-poin penting mengenai hubungan yang akrab antara media pers dan aktivitas dakwah. yakni, pertama, pers yang baik adalah apabila ia dapat berfungsi memberi informasi layak, benar, dan mendidik. Sedangkan dakwah yang bertujuan mengajak melakukan /mengerjakan kebaikan sesuai aturan agama, dapat dilakukan dimana saja dan dan kapan saja, serta oleh siapa saja (tak terbatas pada ahli agama) sesuai kemampuan dan pengetahuannya. Bahkan orang bijak berkata, “Tidak penting seberapa banyak yang kita tahu, yang penting adalah seberapa banyak yang kita lakukan (dan kita ajarkan) dari apa yang kita tahu.” Kedua, dakwah melalui tulisan (baca: media cetak), para juru dakwah --atau lebih tepatnya para penulis-- tidak menggunakan lisan atau ucapan untuk menyampaikan berbagai pesan, gagasan, informasi, pengetahuan, penerangan, bimbingan dan semacamnya kepada penerima pesan. Akan tetapi si pemberi pesan menggoreskan penanya di atas lembaran kertas lalu di publikasi di media untuk disebarkan kepada pembaca yang budiman.
Ketiga, apapun motivasi menulis atau berdakwah lewat pers, yang terpenting ialah para penulis (atau juru dakwah) dapat mengungkapkan segala sesuatunya dengan jelas, tertulis, sistematis, teratur dan bijak sehingga diharapkan pesan dapat diterima dengan baik. Keempat, para pembaca (penerima pesan) yang telah mengetahui pesan dan informasi dari media cetak, berhak untuk memilih dan memutuskan untuk mengikuti atau tidak mengikuti saran atau pendapat dari penulis. Ringkasnya, tidak ada paksaan dalam ajakan berbuat kebajikan dan mencegah kejahatan/keburukan. Dan kelima, ada beberapa ruang khusus yang disediakan untuk berdakwah dan menyampaikan opini di media cetak, seperti surat pembaca, tajuk rencana, wacana, opini, kolom berita, ruang konsultasi dan sejenisnya. Waallahua’lam.
*) penulis adalah pemerhati masalah pendidikan, agama, dan social, pendiri Brilliant Collection, tinggal di Pekalongan, brilliantcollection@yahoo.com. (Alamat: Jl. KH. Ahmad Dahlan IX/2 Tirto Pekalongan , Hp. 085 64 69 84 158,).

Referensi
Abdurrahman Mas’udi, Menuju Paradigma Islam Humanis, Yogyakarta: Gama Media, 2003.
ASM. Romli, Jurnalistik Dakwah (Rosda 2004),
bayubarata.blogspot.com
HM.Arifin, Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Studi.Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Hikmat Kusumaningrat, Jurnalistik Teori dan Praktek, Bandung: Rosdakarya: 2007
M.Munir, Manajemen Dakwah.Jakarta: Kencana, 2006.
Munir, Manajemen Dakwah, Jakarta: Kencana, 2006
Nurudin, Menulis Artikel Itu Gampang. Semarang: Effhar, 2005.
Paryati Sudarman, Menulis di Media Massa.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
RB Khatib Pahlawan Kayo, Manajemen Dakwah, Jakarta: AMZAH, 2007
Suara merdeka,Selasa, 11 Oktober 2005
Sudirman Tebba, Jurnalistik Baru. Ciputat: Kalam Indonesia, 2005.
Toto Djuroto, Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004
Totok Djuroto, Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.
Wisnu Martha, Menyoal Komunikasi Memperdayakan Masyarakat. Yogyakarta: FISIPOL UGM, 2006.
www.penulislepas.com
www.romeltea.com
www.syafiiakrom.com
www.witantra.wordpress.com
Abdurrachman Surjomiharjo, dkk, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia (2004). Kompas, Jakarta.